|
Munculnya China sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia
bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan, kebangkitan ekonomi China
diperkirakan akan mengakhiri sikap unilateralisme AS sebagai akibat ketiadaan
kekuatan baru yang mampu mengalahkan AS pasca runtuhnya komunisme Uni Soviet.
Sementara itu, kekuatan ekonomi Eropa dan Jepang
diperkirakan masih mengalami stagnasi sehingga kekuatan ekonomi China
diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi di Kawasan Asia Pasifik (KAP) yang
mendorong pertumbuhan dan dinamika ekonomi global.
Futurolog John Naisbitt (Megatrend Asia, 1995) sudah
memperkirakan dalam abad XXI, perekonomian KAP akan beralih ke perekonomian
yang dikuasai China dan orang-orang China perantauan (hoakiao). Dalam
pergeseran kekuatan ekonomi Jepang ke orang-orang China, bukan hanya China
Daratan (RRC) yang berpengaruh, melainkan juga peran pengusaha hoakiao.
Perkembangan Ekonomi China
Tanda-tanda kemajuan China itu bisa dilihat kasatmata.
Pasar barang konsumsi Indonesia beberapa tahun terakhir ramai disesaki produk
impor dari sejumlah negara Asia, terutama China. Produk konsumsi asal China
sangat mudah ditemui, baik di pusat perbelanjaan mewah maupun di pasar yang
becek sekalipun. Pesatnya pertumbuhan ekonomi China mendorong mereka
melakukan ekspansi pasar besar-besaran.
Ekspansi pasar meski terkesan dilakukan dengan hatihati,
cukup meresahkan negara-negara tetangga, Jepang, Korea Selatan, dan negara
ASEAN, karena diikuti basis pertumbuhan ekonominya yang kuat. China telah
tampil sebagai the new miracle of Asia, sejajar dengan negara-negara the big
economic of Asia seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Hong
Kong, yang pernah disebut-sebut sebagai pusat keajaiban ekonomi Asia.
Dibandingkan dengan Jepang yang tengah menjalankan program
zero growth, pertumbuhan ekonomi China saat ini mencapai 8%. Kesuksesan ini
merupakan bagian dari strategi market economy yang menjadi orientasi China
pasca-Jiang Zemin. Reformasi Partai Komunis China (PKC) dalam Kongres
November 2001, dengan memasukkan kelas kapitalis (shehui qita fangmian de
youxiu fenzi) ke dalam unsur PKC, tidak hanya bertujuan merombak total
hubungan majikan-pekerja dalam tradisi komunis China, tetapi juga memperkuat
basis pendukung kapitalis China melakukan ekspansi pasar guna mempercepat
pertumbuhan ekonominya.
Bagaimana kita tidak tertegun takjub bila menyimak data
dan fakta perekonomian China. Bayangkanlah sebuah negara dengan penduduk
terbesar di dunia, dihuni 1,286 miliar jiwa, tetapi perekonomiannya mampu
tumbuh 8% per tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang penduduknya 215 juta
orang, tetapi pertumbuhan ekonominya hanya 5–6%. Negara ini juga mampu
mengekspor produknya sebesar USD325 miliar, sementara nilai impornya hanya
USD295 miliar, sehingga terdapat surplus USD30 miliar.
Sekali lagi, bandingkan dengan Indonesia yang ekspornya
sekitar USD60 miliar dan impornya di atas USD50 miliar. Kuatnya kinerja
ekspor dan surplus perdagangan inilah yang menyebabkan China mampu menumpuk
cadangan devisa mencapai USD291 miliar pada 2002 menjadi USD987,9 miliar pada
September 2006. Bandingkan dengan cadangan devisa Indonesia yang diperkirakan
mencapai USD41,5 miliar hingga akhir tahun ini.
Di samping itu, selama krisis ekonomi pelarian modal
Indonesia ke China, juga diperkirakan nilainya cukup besar. Padahal, hingga
kini Indonesia justru kekurangan modal untuk investasi sehingga harus
berjuang untuk menarik modal China ke Indonesia. Pada masa krisis finansial
yang melanda Asia pada 1995 hingga 2000, investasi asing langsung (foreign
direct investment/FDI) ke negaranegara Asia pada umumnya stabil.
Bahkan, ada kecenderungan meningkat setelah reformasi
dilakukan. Akan tetapi untuk Indonesia, FDI merosot secara tajam. Kemerosotan
ini bukan disebabkan faktor China, tetapi lebih karena efek krisis finansial
1997–1998 dan persoalan internal Indonesia sendiri, seperti adanya
ketidakpastian politik, sosial, dan ekonomi.
Kunci utama bagi Indonesia untuk menarik kembali investasi
adalah melanjutkan program reformasi dan mengembangkan ceruk yang ada dalam
ekonomi global dan pasar China. Kebangkitan ekonomi China memengaruhi
Indonesia juga karena mereka memerlukan sejumlah komoditas untuk pembangunan
negara besar tersebut.
Masa Depan China
Apakah kebangkitan ekonomi China akan memberikan dampak
positif terhadap negara tetangganya, terutama negara di kawasan Asia Tenggara
khususnya Indonesia? Menghadapi fenomena China ini, kita harus bersikap
positif. Perkembangan China ini bagaimanapun harus kita manfaatkan. Dengan
jumlah penduduk yang hampir satu setengah miliar adalah potensi pasar yang
besar.
Potensi pasar yang besar ini akan meningkatkan permintaan
produk barang dan jasa serta barang modal. Demikian pula, industri mereka
juga berkembang sehingga memerlukan bahan impor untuk mendukung perkembangan
ekonomi mereka. Mereka juga memerlukan perluasan investasi di negara-negara
lain yang terkait dengan industri mereka.
Sejauh ini, hubungan ekonomi China dengan Indonesia juga
terus berkembang. Hubungan China Indonesia telah mengalami banyak kemajuan.
Perdagangan antarkedua negara selama periode 2001–2005 neraca perdagangan
Indonesia dalam posisi surplus dengan tren pertumbuhan sebesar 18,69%. Total
nilai perdagangan Indonesia- China pada 2005 yang tercatat di Biro Pusat
Statistik (BPS) sebesar USD12,5 miliar.
Total nilai perdagangan itu meningkat 43,63% jika
dibandingkan dengan 2004 yang mencapai 8USD,7 miliar. Impor China dari
Indonesia utamanya adalah minyak sawit, minyak mentah, dan kayu gelondongan.
Sementara ekspornya terutama adalah perlengkapan elektronik serta berbagai
mereka sepeda motor. Ini bisa kita lihat dari maraknya produkproduk China
seperti motor dan permesinan seolah hendak menenggelamkan produk saingannya
dari Jepang.
Selama ini, pengaruh China terhadap negara-negara Asia
Tenggara memang masih kecil. Mesin pertumbuhannya belum kuat mendorong negara
lain, walau diperkirakan makin besar di tahun-tahun mendatang. Dengan kata
lain, sehatnya ekonomi China memberikan dampak positif pada pertumbuhan
negara tetangganya.
|
Comments
Post a Comment